Cara Mulai Jurnaling untuk Pemula

Saya pernah beli buku jurnal yang bagus sekali. Cover kulit cokelat, kertas krem, ada tali pengikatnya. Saya taruh di meja. Lalu saya biarkan selama empat bulan sampai akhirnya jadi alas mug kopi.

Saya tahu, itu bukan karena saya malas.

Saya tidak tahu mau nulis apa. Setiap kali buka halaman pertama, rasanya seperti harus menulis sesuatu yang… penting. Bermakna, yang layak untuk diabadikan.

Ternyata itu kesalahan paling umum yang bikin orang berhenti jurnaling sebelum sempat mulai.

Jurnaling bukan diary

Dulu saya pikir jurnaling itu sama dengan diary.

Menulis “Dear Diary, hari ini aku…” lalu menceritakan semua kejadian dari pagi sampai malam.
Membosankan, dan rasanya kayak PR sekolah yang tidak ada nilai akhirnya.

Jurnaling tidak seperti itu.

Jurnaling, menurut saya, lebih dekat ke percakapan dengan diri sendiri.

Kadang isinya pikiran acak yang belum selesai.

Kadang keluhan panjang tentang keadaan di tempat kerja.

Kadang pertanyaan yang tidak ada jawabannya.

Kadang cuma satu kalimat: “Hari ini melelahkan dan saya gak tau kenapa.”

Tidak ada format baku. Tidak ada penilai. Tidak ada yang salah.
Ini penting untuk dipahami dari awal, karena ekspektasi yang keliru itu yang bikin orang berhenti.


download emosi-o-meter

Emosi-O-Meter

Gunakan lembar kerja Emosi-O-Meter yang akan membantu kamu meregulasi emosi dan mengontrol reaksi.


Kenapa repot-repot jurnaling?

Pertanyaan yang wajar.

Kita sudah cukup banyak hal yang harus dilakukan setiap hari, kenapa harus tambah satu kegiatan lagi?

Jawabannya berbeda-beda tergantung orangnya, tapi dari pengalaman saya dan beberapa orang yang saya kenal yang konsisten jurnaling, manfaatnya cenderung sama: kepala jadi lebih ringan.

Pikiran itu aneh.

Kalau dibiarkan berputar di dalam kepala tanpa pernah dikeluarkan, satu masalah kecil bisa terasa seperti bencana.

Tapi begitu ditulis, sering kali masalahnya tiba-tiba kelihatan lebih kecil dari yang kita bayangkan.

Bukan karena masalahnya hilang, tapi ketika otak kita dipaksa untuk menyusunnya jadi kata-kata, proses itu sering membuat kita menemukan bahwa situasinya tidak sekacau yang kita rasakan.

Ada juga efek lain yang lebih lambat tapi lumayan nyata: kamu jadi lebih mengenal diri sendiri.

Pola emosi, hal-hal yang bikin kamu senang atau frustrasi, keputusan yang kamu sesali, harapan yang tidak pernah kamu ucapkan ke siapapun.

Semua itu pelan-pelan kelihatan kalau kamu rutin menulis.

Beberapa penelitian di bidang psikologi memang mencatat hubungan antara expressive writing (menulis tentang emosi dan pikiran) dengan penurunan stres dan kecemasan.

Salah satunya dari James Pennebaker, psikolog di University of Texas, yang sudah meneliti ini sejak 1980-an.

Tapi saya tidak mau terlalu jauh ke sana, karena kamu mungkin tidak butuh data untuk membuktikannya.
Coba saja dulu dua minggu, lalu rasakan sendiri.

Mulai dari mana

Jangan beli buku mahal dulu

Ini bukan soal estetika.

Buku jurnal yang terlalu bagus justru sering jadi beban psikologis, karena kamu merasa harus mengisinya dengan sesuatu yang “layak.”

Mulai dengan buku tulis biasa, aplikasi notes di HP, atau bahkan dokumen Google. Nanti kalau sudah terbiasa, baru upgrade kalau mau.

Pilih waktu yang bisa kamu pertahankan

Pagi atau malam. Dua waktu ini paling sering berhasil, tapi alasannya beda.

Pagi cocok untuk orang yang suka mulai hari dengan kepala jernih.

Sebelum buka HP, sebelum cek notifikasi, tulis dulu selama lima menit. Apa yang ada di pikiran. Apa yang ingin dicapai hari ini. Perasaan yang tersisa dari mimpi semalam, kalau ada.

Malam lebih cocok untuk refleksi.

Apa yang terjadi hari ini. Momen yang ingin diingat. Hal yang mengganggu dan belum sempat diproses. Perasaan sebelum tidur yang biasanya kita biarkan begitu saja sambil scroll media sosial sampai ngantuk.

Pilih salah satu. Jangan dua-duanya dulu.

Mulai kecil

Lima menit. Tiga kalimat. Satu paragraf pendek.

Kalau target awalmu terlalu ambisius, misalnya setengah jam setiap hari, kamu akan terus menunda karena menunggu waktu dan kondisi yang “tepat.” Yang tidak pernah datang.

Kebiasaan kecil yang konsisten jauh lebih berguna daripada sesi panjang yang sporadis. Ini berlaku untuk hampir semua kebiasaan, termasuk jurnaling.

Tidak tahu mau nulis apa

Ini penghalang terbesar untuk pemula, dan solusinya sederhana: gunakan prompt.

Prompt adalah pertanyaan atau kalimat pembuka yang bisa langsung kamu lanjutkan. Kamu tidak perlu mikir mau mulai dari mana, tinggal jawab saja.

Beberapa yang paling saya suka:

“Hari ini saya merasa…” Sederhana, tapi mengejutkan betapa sulitnya menjawab ini dengan jujur kalau kita tidak terbiasa.

“Satu hal yang saya khawatirkan sekarang adalah…” Bagus untuk mengeluarkan kekhawatiran yang sering kita pendam karena takut terdengar berlebihan.

“Kalau hari ini bisa diulang, saya ingin…” Ini bukan soal penyesalan. Lebih ke refleksi tentang apa yang sebenarnya kamu inginkan.

“Sesuatu yang saya syukuri hari ini, sekecil apapun itu…” Klise, tapi berhasil. Otak kita terlatih untuk lebih cepat menemukan hal negatif. Menulis satu hal positif setiap hari, meskipun cuma “tadi pagi kopinya enak,” cukup mengubah sudut pandang secara perlahan.

“Saya bingung tentang…” Bingung itu tidak selalu butuh jawaban. Kadang cukup dituliskan.

Tidak harus pakai semua. Satu sudah cukup.

Soal media: buku atau digital?

Tidak ada jawaban yang lebih benar dari yang lain.

Buku tulis fisik punya keunggulan yang susah ditiru: tidak ada notifikasi, tidak ada aplikasi lain yang menggoda, tangan bergerak lebih lambat dari pikiran sehingga kamu terpaksa menyaring apa yang benar-benar ingin ditulis.

Banyak orang merasa lebih bebas nulis jujur di kertas karena rasanya lebih privat, meskipun secara teknis file digital juga bisa dikunci.

Aplikasi digital lebih praktis.

Selalu ada di HP, bisa diakses kapanpun, dan kalau nulis cepat itu penting buat kamu, mengetik biasanya lebih efisien. Beberapa aplikasi yang cukup banyak dipakai: Day One (yang paling populer untuk jurnaling), Notion kalau kamu suka sistem, atau cukup pakai Notes bawaan HP.

Coba keduanya kalau perlu.

Saya pernah pakai keduanya sekaligus, buku untuk refleksi emosional yang lebih dalam, aplikasi untuk catatan cepat di tengah hari.

Satu hal yang sering salah dipahami

Jurnaling bukan terapi. Bukan juga pengganti ngobrol sama orang yang kamu percaya.

Kalau kamu sedang menghadapi sesuatu yang cukup berat, baik itu masalah mental, trauma, atau situasi yang terasa tidak tertanggung, jurnaling bisa membantu sebagai salah satu cara memproses, tapi tidak cukup sendirian.

Cerita ke orang yang kamu percaya. Atau ke profesional kalau perlu.

Jurnaling paling berguna untuk hal-hal sehari-hari: memproses hari yang melelahkan, menjernihkan pikiran yang berantakan, mencatat hal-hal yang ingin diingat, atau sekadar memberi diri sendiri ruang untuk merasa tanpa harus menjelaskan ke siapapun.

Aturan paling penting

Satu saja: jangan edit saat menulis.

Ini yang paling susah, terutama kalau kamu terbiasa menulis untuk dibaca orang lain. Dorongan untuk memperbaiki kalimat, memilih kata yang lebih tepat, atau menyusun alur yang lebih rapi akan selalu ada.

Tahan itu.

Jurnaling bekerja justru karena tidak ada tekanan untuk sempurna.

Pikiran yang belum selesai, kalimat yang ambigu, perasaan yang kontradiktif, semua itu valid dan justru itu yang paling jujur. Kalau kamu mulai mengedit, kamu mulai menulis untuk “versi dirimu yang ideal,” bukan untuk dirimu yang sebenarnya sedang duduk di sana dengan segala kebingungannya.

Tidak perlu menunggu waktu yang tepat, buku yang bagus, atau kondisi emosi yang stabil. Buka halaman kosong sekarang, tulis tanggal hari ini, dan jawab satu pertanyaan: apa yang sekarang ada di pikiranku?

Itu sudah cukup untuk hari pertama.

Buku Jurnal Perasaanku

Gunakan workbook Buku Jurnal Perasaanku yang akan menemani kamu menyelami perasaan dengan jujur dan membebaskan.