Perkembangan emosi anak merupakan tingkatan kemampuan anak dalam mengelola dan juga mengekspresikan emosinya, baik positif maupun negatif. Terlebih, setiap anak terlahir memiliki keunikan masing-masing, termasuk dalam perkembangan emosinya. Seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan ini akan terus berkembang.
Tahapan Perkembangan Emosi Anak
Sebagai orang tua, sudah semestinya Anda membimbing anak dalam mengelola emosinya. Penting bagi Anda untuk mengetahui tahapan-tahapan perkembangan emosinya sebagaimana yang akan dijelaskan berikut ini.
Usia 0-1 Tahun, Tahapan Mengenal Emosi
Tahukah Anda kalau tahapan perkembangan emosi dimulai sejak bayi lahir ke dunia. Anak mulai sadar dan mengenali emosinya pada tahapan ini. Meskipun demikian, mereka belum mampu menyampaikannya dengan jelas. Ia hanya mampu mengungkapkannya melalui tangisan, ekspresi wajah atau senyuman.
Ciptakan lingkungan aman dan konsisten untuk mereka pada tahapan ini. Sebab, lingkungan yang penuh kasih sayang dan stabil, membuat mereka percaya diri dalam mengekspresikan dirinya. Biarkan pula mereka menenangkan diri dengan caranya, misalnya mengisap jempol.
Usia 2-3 Tahun, Tahapan Mengekspresikan Emosi
Selama tahapan ini, anak mulai mampu mengekspresikan emosi. Hal ini didukung dengan perkembangan kosa kata, sehingga mereka mulai belajar untuk mengungkapkan emosinya. Tidak hanya lisan saja, anak mulai mengekspresikan emosi dengan tindakan, seperti tantrum.
Nah, ketika anak sedang tantrum, tetaplah tenang untuk membantu mereka dalam mengarahkan emosinya. Ajari mereka mengekspresikan perasaan beserta alasan, misalnya mengatakan “kalau aku menangis karena….”. ini sangat baik untuk membantu anak mengelola dan memahami emosinya, tidak sekadar meluapkan.
Usia 3-5 Tahun, Tahapan Mengelola Emosi
Perkembangan emosi anak semakin berlanjut dengan memasuki tahapan mengelola emosi. Biasanya pada tahapan ini, anak sudah mengenal lingkungan baru yang ada di sekitarnya. Bertemu dengan orang-orang yang beragam, membantu mereka berkembang.
Anak akan belajar mendengarkan, berbagi, bermain bersama, dan mengembangkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah. Jangan taruh harapan terlalu tinggi kepada mereka. Sebab, in akan membuat mereka tumbuh menjadi pemalu, mudah cemas, dan tidak percaya diri.
Cobalah untuk mengakui atau memberi validasi terhadap emosinya, terutama saat anak merasa cemas. Jelaskan untuk jangan berlarut-larut terbawa dalam emosinya, beri motivasi kalau mereka harus mampu berusaha lebih baik. Tentu saja ini diungkapkan melalui kata-kata sederhana yang mudah dipahami anak-anak.
Usia 5-6, Tahapan Mengungkapkan Simpati
Dalam tahapan ini, anak mulai aktif melakukan sosialisasi dan mampu mengikuti aturan kelompok. Bahkan, mereka juga sudah bisa menunjukkan simpati terhadap lawan bicara atau orang-orang di sekitarnya.
Di sini, perkembangan emosi anak juga sudah sampai pada memahami pertanyaan-pertanyaan yang terlontar. Dalam tahap ini bantulah anak agar memiliki kesadaran sosial di lingkungannya. Sehingga mereka bisa mengenali dan juga menghargai orang lain, dari berbagai perbedaan atau persamaan dari tiap individu yang ditemuinya.
FAQ
Kapan perkembangan emosi pada anak mulai terbentuk?
Sejak lahir ke dunia, anak sudah mulai mampu mengenali emosi melalui tangisan, senyuman, dan ekspresi wajah.
Apa yang harus dilakukan orang tua saat anak sedang tantrum?
Tetap tenang dan bantulah anak mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata yang sederhana.
Mengapa penting mengenali tahapan perkembangan emosi pada anak?
Agar orang tua mampu membimbing anak sesuai dengan usianya. Sebab, kebutuhan emosi anak di masing-masing usia memiliki perbedaan.
Apa yang dimaksud dengan tahapan simpati pada anak usia 5-6 tahun?
Anak mulai mampu memahami perasaan orang lain, dan juga menunjukkan kepedulian atau empati.
